Belum Sebulan Menjabat, Ini Gebrakan Lurah Ranai Darat di Musim Hujan
(Lurah Ranai Darat Era Juein Marisa, turun langsung bersama warga bersihkan saluran parit)
Natuna, metroindonesia.co.id – Suasana Pagi di Ranai Darat belum sepenuhnya terang. Jam baru menunjukkan pukul 07.00 WIB, embun masih menempel di rerumputan, namun denyut kehidupan sudah terasa lebih cepat dari biasanya. Puluhan warga tampak berbondong-bondong menuju titik-titik yang telah ditentukan. Mereka datang bukan karena undangan seremonial, bukan pula karena imbalan, melainkan karena satu panggilan gotong royong.
Dari 22 RT, 2 RW, hingga 2 Kepala Lingkungan (Kaling), perwakilan warga hadir dengan perlengkapan seadanya. Ada yang menggenggam parang, ada memanggul cangkul, sebagian lagi membawa mesin potong rumput. Suara sapa dan tawa ringan memecah pagi, menandai kebersamaan lama tak terasa.

(Warga Ranai Darat saat Goro)
Di balik gerakan pagi itu, berdiri sosok perempuan bersahaja, A. Era Juein Marisa, 5.50s, Lurah Ranai Darat yang baru seumur jagung menjabat. Namun langkahnya jauh dari ragu. Baru satu bulan dilantik, ia langsung “tancap gas”, turun ke lapangan, menyatu dengan warganya.
Musim penghujan datang hampir tanpa kompromi menjadi alasan kuat. Parit parit tersumbat, saluran air tertutup rumput dan sampah, ancaman banjir kian nyata. Bagi Era Juein Marisa, menunggu anggaran bukan pilihan. Bergerak bersama warga adalah jawabannya.
“Saat ini ada tiga lokasi yang kita lakukan pembersihan saluran air secara bersamaan,” ujarnya di sela sela kegiatan gotong royong, Sabtu (13/12/2025).
Tak sekadar memberi instruksi, sang lurah ikut, menyibak semak, dan mengangkat lumpur dari parit. Bersama RT, RW, dan Kaling, ia menjadi motor penggerak, memimpin bukan dari balik meja, melainkan dari lumpur dan rumput liar menutup aliran air.
la mengaku, sejak dilantik, dirinya rutin melakukan Goro dengan warga mulai hari Jumat, Sabtu dan Minggu.
Gotong royong pagi itu bukan hanya soal membersihkan parit. la menjelma menjadi ruang silaturahmi, tempat warga kembali saling mengenal, berbagi cerita, dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan mereka sendiri. Di tengah Keterbatasan anggaran, kebersamaan menjadi modal sosial tak ternilai.
Mantan Camat Bunguran Timur, I Hamid Asnan, yang turut langsung dalam kegiatan tersebut, tak menyembunyikan rasa bangganya. Dengan nada jujur, ia mengaku baru kali ini merasakan kehadiran seorang lurah yang benar benar menyentuh masyarakat Ranai Darat.
“Saya baru merasakan ada sosok Lurah Ranai Darat. Selama ini belum pernah ada pemimpin yang mampu menyatukan masyarakat lewat gotong royong seperti ini,” ucapnya.
Hamid bahkan mengaku baru mengetahui keberadaan saluran irigasi tersebut. Selama ia menjabat camat, tak pernah ada laporan atau perhatian khusus dari pihak kelurahan sebelumnya. Fakta itu semakin menegaskan betapa kegiatan sederhana pagi itu menyimpan makna besar.
“Pemerintah membangun, kita yang merawat,” kata Hamid, menegaskan filosofi lama yang kembali menemukan relevansinya. Menurutnya, gotong royong bukan hanya solusi murah, tetapi juga cara paling efektif membangun rasa tanggung jawab bersama.
Bagi warga Ranai Darat, pagi itu menjadi penanda perubahan. Bukan karena proyek besar atau alat berat, melainkan karena hadirnya pemimpin yang mau berjalan bersama mereka. Di tangan lurah baru, gotong royong kembali hidup, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai praktik nyata.
Ketika matahari mulai meninggi dan parit parit kembali mengalirkan air dengan lancar, warga pun di minta jangan pulang dulu, karena telah disiapkan bubur kacang hijau untuk sarapan pagi, lokasinya di kolam renang. “Kita sarapan sambil mandi di kolam milik pak I larmain,’ pesan Bu Lurah
Lumpur boleh menempel di kaki, peluh mengalir di dahi, namun ada kepuasan yang sulit dijelaskan, rasa memiliki dan harapan.
Di Ranai Darat, pagi itu membuktikan satu hal sederhana namun penting, bahwa kepemimpinan yang hadir, mendengar, dan bekerja bersama rakyat, selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah keto batasan.(Roy)
Sumber :
https://metroindonesia.co.id/belum-sebulan-menjabat-ini-gebrakan-lurah-ranai-darat-di-musim-hujan/