Abrasi Ancam Jalan Penghubung Dua Kecamatan di Natuna, Warga Berharap Solusi Permanen
NATUNA, TRIBUNBATAM.id – Abrasi akibat cuaca ekstrem kembali menggerus jalan semenisasi pesisir Bakau Besar, Desa Batu Belanak, Kecamatan Suak Midai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Kondisi merupakan salah satu permasalahan yang rutin dirasakan oleh warga setempat setiap tahunnya.
Jalan yang menjadi penghubung utama antara Kecamatan Suak Midai dan Kecamatan Midai itu, mengalami kerusakan cukup serius, setelah dihantam gelombang laut saat musim utara melanda wilayah tersebut.
Bagian bawah badan jalan disebut sudah terkikis hingga berlubang.
Material penahan berupa batu dan pasir tergerus ombak, membuat struktur jalan menggantung dan berpotensi ambruk jika abrasi terus berlanjut.
Kondisi tersebut terlihat jelas dalam foto yang diterima Tribunbatam.id.
Sejumlah warga bersama aparat setempat bergotong royong mengisi karung-karung pasir dan batu, lalu menyusunnya di bawah badan jalan dan dilapisi semen, sebagai penanganan darurat agar jalan tidak putus.
Jalan Bakau Besar sendiri merupakan akses vital bagi aktivitas masyarakat di sana. Mulai dari mobilitas harian, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan antar dua kecamatan.
Warga Suak Midai, Muslaini mengatakan, ancaman abrasi di kawasan tersebut sudah berlangsung lama dan terus berulang di kala musim utara datang.
“Kami masyarakat Kecamatan Suak Midai, khususnya Jalan Bakau Besar Desa Batu Belanak, sangat membutuhkan penanganan abrasi pantai. Harapan kami dibangun pemecah ombak sekitar 200 meter untuk menyelamatkan jalan poros ini,” ujarnya kepada Tribunbatam.id, Minggu (14/12/2025).
Ia menegaskan, jalan tersebut bukan sekadar akses biasa, melainkan jalur utama penghubung dua kecamatan yang setiap hari dilalui masyarakat.
“Setiap tahun kami gotong-royong seperti ini. Tapi ini hanya solusi sementara. Kami sangat berharap perhatian pemerintah agar ada penanganan permanen,” ujarnya.
Senada dengan itu, Camat Suak Midai, Zulkipli, membenarkan Jalan Bakau Besar memang menjadi langganan abrasi setiap tahun, terutama saat gelombang laut tinggi.
“Kalau Jalan Bakau ini memang langganan abrasi setiap musim utara,” katanya.
Ia menjelaskan, meski di lokasi tersebut sudah ada tanggul pemecah ombak dan batu miring, namun kondisinya sudah tua dan panjang pemecah ombak belum memadai untuk menahan gempuran gelombang.
Sumber: